Berita Terbaru :
 photo Graphic1-31_zpsc1f49be2.jpg
Home » » SAHABAT DAN TABI'IN

SAHABAT DAN TABI'IN



BAB I
PENDAHULUAN
            Pada abad ke-6 hijriah kehidupan Islam kelihatan agak lesu karena melemahnya kegiatan  pencarian Hadis sampai pada awal abad tersebut dalam masyarakat Islam belum terdapat madrasah-madrasah yang mempelajari hadis. Selanjutnya  pada abad tersebut  untuk pertama kali berdiri madrasah hadis atas prakarsa Nuruddin bin Abu Said Zanki (569 H) yang kemudian namanya diabadikan dengan mendirikan Madrasah an-Nuriyah di Damaskus, salah seorang guru di madrasah tersebut.
BAB II
PEMBAHASAN
A.    Pengertian sahabat dan tabi'in
Kata sahabat menurut lughah jamak dari sahib artinya yang menyertai. Menurut para ulama yang disebut "sahabat" adalah orang yang bertemu dengan Nabi saw dalam keadaan beriman dan meninggal dunia sebagai pemeluk Islam. Maka, orang yang bertemu dengan Nabi sedang dia belum memeluk agama Islam, maka tidaklah dipandang sahabat. Orang yang menemui masa Nabi dan beriman kepadanya tetapi tidak menjumpainya, seperti Najasi, atau menjumpai Nabi setelah Nabi wafat, seperti Abu Dzu'aib, yang pergi dari rumahnya setelah ia beriman untuk menjumpai Nabi  di Madinah. Setiba di Madinah, Nabi telah wafat. Maka, baik Najasi dan Abu Dzu'aib, mereka berdua termasuk sahabat Nabi.
Ditandaskan oleh al-Hafidl, bahwa pendapat yang paling shahih yang telah diketemukannya bahwa arti sahabat adalah orang yang berjumpa dengan Nabi dalam keadaan dia beriman dan meninggal dalam islam, baik lama ia bergaul dengan Nabi atau tidak, baik dia turut berperang bersama Nabi atau tidak, baik dia dapat melihat Nabi meskipun tidak dalam satu majelis dengan Nabi, atau dia tidak dapat melihat Nabi karena buta.
Menurut Usman ibnu Shalih, yang dikatakan sahabat adalah orang yang menemui masa Nabi, walaupun dia tidak dapat melihat Nabi dan ia memeluk Islam semasa Nabi masih hidup.
Sebagian 'ulama Ushul berpendapat bahwa yang dimaksud sahabat adalah orang yang berjumpa dengan Rasul dan lama pula persahabatannya dengan beliau walaupun tidak meriwayatkan hadis dari beliau.
Menurut al-Khudlari menerangkan dalam Ushul Fiqhnya: "tidak dipandang seseorang, menjadi sahabat, melainkan orang yang berkediaman bersama Nabi satu tahun atau dua tahun". Tetapi an-Nawawi membantah faham ini dengan alasan kalau yang dmaksud sahabi yaitu orang yang menyertai Nabi satu atau dua tahun, tentulah tidak boleh kita katakan Jarir al-Bajali seorang sahabat.
Tabi'I menurut bahasa yaitu pengikut.  Sedangkan yang disebut "tabi'in" menurut istilah adalah orang yang bertemu dengan sahabat dan beriman kepada Nabi saw serta meninggal dunia dalam keadaan beriman kepada Islam.
Tentang hal ini al-Khatib al-Baghdadi mensyaratkan adanya persahabatan dengan sahabat, jadi bukan hanya bertemu.
Para ulama' berbeda pendapat dalam memahami  Tabi'in. as-Suyuthi  berpendapat dalam al-Iahnya bahwa Tabi'in dalah mereka yang berjumpa dengan sahabat yang sepuluh yang diakui dijamin masuk surga. Al-Hakim mendefinisikan Tabi'in yaitu mereka yang mendengar Hadis dari sahabat yang sepuluh.
B.     Periwayatan Sahabat
عن أبي هريرة رضي الله عنه قا ل : قا رسو ل الله ص م من حسن المرءي تر كه ما لا يعنيه (رواه التر مذ ى و غير ه )

Artinya: "dari Abu Hurairah ra, Rasulullah saw bersabda, setengah dari tanda kebaikan adalah meninggalkan perkara yang tidak berfaidah".( HR. Tirmidzi)[1] 
C.     Sahabat / Tabi'in Shighar dan Kibar
Sesudah masa Utsman dan Ali, timbullah usaha yang lebih sungguh-sungguh untuk mencari dan  menghafal hadis serta menebarkannya ke dalam masyarakat luas dengan mengadakan perlawatan-perlawatan untuk mencari hadis.
Pada tahun 17 H, tentara islam mengalahkan Syam dan Iraq. Pada tahun 20 H, tentara Islam mengalahkan Mesir. Pada tahun 21 H, mengalahkan Persia. Kemudian pada tahun 56 H,  tentara Islam sampe di Samarkand. Dan pada tahun 93 H, tentara Islam menaklukkan Spanyol.
Para sahabat berpindah ke tempat-tempat itu. Karenanya kota-kota itu merupakan perguruan tempat mengajarkan Al-Qur'an dan al-Hadis, tempat mengeluarkan sarjana-sarjana tabi'in hadis.
Menurut riwayat al-bukhari, Ahmad, at-Thabrany dan al-Baihaqy, Jabir pernah pergi ke Syam melakukan perlawatan sebulan lamanya untuk menanyakan sebuah hadis yang belum pernah didengar pada seorang shahaby yang tinggal di Syam yaitu Abdullah ibnu Unais al-Anshary. Begitu juga dengan Abul Ayyub al-Anshary pernah pergi ke Mesir untuk menemui Uqbah ibnu Amir lantaran keperluan untuk bertanya sebuah hadis kepadanya.
Dengan masuknya hadis ke dalam fase ini, mulailah hadis-hadis diberikan perhatian dengan sempurna. Para tabi'in berusaha menjumpai sahabat ke tempat-tempat yang jauh dan memindahkan isi hati mereka sebelum mereka pulang .
Dalam fase ini, terkenallah beberapa orang sahabat dengan julukan "bendaharawan hadis" yakni orang-orang yang riwayatnya lebih dari 1000 hadis. Di antaranya adalah: Abu Hurairah, menurut hitungan Ibnu Jauzy beliau meriwayatkan 5374 hadis. Sedangkan menurut al-Kirmany beliau meriwayatkan 5364 hadis. 'Aisyah yaitu istri Nabi meriwayatkan 2210 hadis. Anas bin malik meriwayatkan 2276 hadis. Abdullah ibnu Abbas meriwayatkan 1660 hadis. Abdullah ibnu Umar meriwayatkan 2630 hadis. Jabir ibnu Abdullah meriwayatkan 1540 hadis. Abu Sa'id al-Khudry meriwayatkan 1170 hadis dan Abdullah ibnu Amr ibnu 'Ash meriwayatkan hadis dari buku catatan yang dinamai "as-Shadiqah".
Adapun tokoh-tokoh hadis dalam kalangan tabi'in diantaranya yaitu:
1.      Di Madinah: Sa'id, 'urwah, Abu Bakr ibnu Abdurrahman ibnu al-Harits ibnu Hisyam, Salim ibnu Abdullah ibnu Umar dan lain-lain.
2.      Di Makkah: Ikrimah, Atha ibnu Abi Rabah, Abul Zubair, Muhammad ibnu Muslim.
3.      Di Kufah: Asy-Sya'bi, Ibrahim an-Nakha'I, Alqamah an-Nakha'i.
4.      Di basrah: Al-Hasan, Muhammad ibnu Sirin dan Qatadah.
5.      Di Syam: 'Umar ibnu Abdil Aziz, Qabishah ibnu Dzuaib, Makhul Ka'bul Akbar.
6.      Di Mesir: Abul Khair Martsad ibnu Abdullah al-Yaziny dan Yazid ibnu Habib.
7.      Di Yaman: Thaus ibnu Kaisan al-Yamani dan Wahab ibnu Munabbih.[2]                                                                                                                
        

D.    Keadilan Sahabat

Kalau kita melihat pujian Nabi saw kepada sahabat-sahabatnya, begitu juga pujian Allah dibeberapa tempat dalam Al-Qur'an, maka tidak boleh tidak kita mesti tetapkan bahwa sahabat-sahabat semua bersifat sifat adil dalam meriwayatkan hadis, yakni mereka tidak khianat dan dusta dalam menyampaikan sabda-sabda  dan perjalanan Nabi saw.
Tetapi oleh karena mereka juga manusia seperti kita, maka terkadang ada kekeliruan atau kesalahan dalam menyampaikan Hadis atau Riwayat.
Pendeknya, diri sahabat tidak usah kita ragukan lagi. Tetapi yang perlu kita periksa yaitu hadis yang telah driwayatkannya.[3]


  
BAB III
PENUTUP
  Kata sahabat menurut lughah jamak dari sahib artinya yang menyertai. Menurut para ulama yang disebut "sahabat" adalah orang yang bertemu dengan Nabi saw dalam keadaan beriman dan meninggal dunia sebagai pemeluk Islam. Maka, orang yang bertemu dengan Nabi sedang dia belum memeluk agama Islam, maka tidaklah dipandang sahabat. Orang yang menemui masa Nabi dan beriman kepadanya tetapi tidak menjumpainya, seperti Najasi, atau menjumpai Nabi setelah Nabi wafat, seperti Abu Dzu'aib, yang pergi dari rumahnya setelah ia beriman untuk menjumpai Nabi  di Madinah. Setiba di Madinah, Nabi telah wafat. Maka, baik Najasi dan Abu Dzu'aib, mereka berdua termasuk sahabat Nabi.
Tabi'I menurut bahasa yaitu pengikut.  Sedangkan yang disebut "tabi'in" menurut istilah adalah orang yang bertemu dengan sahabat dan beriman kepada Nabi saw serta meninggal dunia dalam keadaan beriman kepada Islam.[4]











[1] Bisri Musthafa, , al-Azwadu al-Musthafwiyah, Kudus: Menara Kudus, 1375 H hal. 23-24

[2] Subhi As-Shalih, , Membahas Ilmu Hadis, Jakarta: Pustaka Firdaus, 1993. 69-75

[3]
Ash-Shiddiqiy, Hasbi, Sejarah dan Pengantar Ilmu Hadis, cet ke 6 Yogyakarta: Bulan Bintang, 1980, hal. 315-318
[4]
Share this article :

0 comments:

Speak up your mind

Tell us what you're thinking... !

Next Prev home
 
Support : Creating Website | Mas Imam
Copyright © 2009. GREEN GENERATION - All Rights Reserved