Berita Terbaru :
 photo Graphic1-31_zpsc1f49be2.jpg
Home » » Taqdim dan Ta'khir

Taqdim dan Ta'khir



A.    Pendahuluan
Sebagaimana diyakini bahwa al-Quran diturunkan Allah SWT sebagai petunjuk dan pembimbing makhluk-makhluk-Nya disetiap ruang dan waktu. Al-Quran juga akan mengantarkan dan mengarahkan mereka ke jalan yang lurus, firman Allah pada surat al-Isra’ ayat 9
 ¨bÎ) #x»yd tb#uäöà)ø9$# Ïöku ÓÉL¯=Ï9 šÏf ãPuqø%r& çŽÅe³u;ãƒur tûüÏZÏB÷sßJø9$# tûïÏ%©!$# tbqè=yJ÷ètƒ ÏM»ysÎ=»¢Á9$# ¨br& öNçlm; #\ô_r& #ZŽÎ6x. ÇÒÈ
9.  “Sesungguhnya Al Quran Ini memberikan petunjuk kepada (jalan) yang lebih lurus dan memberi khabar gembira kepada orang-orang Mu'min yang mengerjakan amal saleh bahwa bagi mereka ada pahala yang besar”
Agar fungsi-fungsi al-Quran tersebut dapat terwujud, maka kita harus menemukan makna-makna firman Allah saat menafsirkan, sebagai mana yang telah dilakukan oleh para sahabat Nabi. Mereka tidak akan melanjutkan bacaannya sebelum memahami dengan tepat makna ayat-ayat yanng dibaca oleh mereka, baik yang terkait dengan masalah keimanan, ilmu atau amaliyah. Maka disini kita akan mengkaji tentang penempatan kosa kata (di depan atau di belakang ) suatu kata. Karena pemahaman mengenai bahasan ini tidak cukup hanya berpatokan dengan al-Quran saja, tetapi juga harus memperhatikan cakupan pengertian dan keserasian makna yang di tunjuk oleh redaksi ayat-ayat al-Quran.



B.     Pembahasan

1.      Penempatan Kosa Kata (di depan atau di belakang ) Suatu Kata
Di dalam al-Quran sering terdapat kata-kata tertentu yang memiliki kesamaan tetapi posisinya berbeda. Menurut imam al-Suyuthi dalam karyanya yang berjudul Al-Itqan fi Ulum al-Quran diterangkan sedikitnya ada kajian pokok yang perlu diperhatikan, salah satunya tentang penempatan kosa kata (di depan atau di belakang) suatu kata, yaitu tentang kajian yang terkait dengan teks al-Quran yang secara zhahir sulit dipahami maknanya, namun setalah diketahui bahwa teks tersebut termasuk uslub (gaya bahasa) penempatan kosa kata (di depan atau di belakang ) suatu kata, maka menjadi jelas dan hilanglah kesulitan dalam memahami teks al-Quran yang dimaksud.[1] Ada kata-kata tertentu yang sama di dalam al-Quran, tetapi posisi masing- masing berbeda.  Pada salah satu redaksi, misalnya kata tersebut terletak terkemudian (penempatan kosa kata di depan suatu kata). Contohnya QS. Saba’ : 3 dan 22;
tA$s%ur tûïÏ%©!$# (#rãxÿx. Ÿw $oYÏ?ù's? èptã$¡¡9$# ( ö@è% 4n?t/ În1uur öNà6¨ZtÏ?ù'tGs9 ÉOÎ=»tã É=øtóø9$# ( Ÿw Ü>â÷ètƒ çm÷Ztã ãA$s)÷WÏB ;o§sŒ Îû ÏNºuq»yJ¡¡9$# Ÿwur Îû ÇÚöF{$# Iwur ãtóô¹r& `ÏB šÏ9ºsŒ Iwur çŽt9ò2r& žwÎ) Îû 5=»tGÅ2 &ûüÎ7B ÇÌÈ

3. Dan orang-orang yang kafir berkata: "Hari berbangkit itu tidak akan datang kepada kami". Katakanlah: "Pasti datang, demi Tuhanku yang mengetahui yang ghaib, Sesungguhnya kiamat itu pasti akan datang kepadamu. tidak ada tersembunyi daripada-Nya sebesar zarrahpun yang ada di langit dan yang ada di bumi dan tidak ada (pula) yang lebih kecil dari itu dan yang lebih besar, melainkan tersebut dalam Kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh)",

È@è% (#qãã÷Š$# šúïÏ%©!$# LäêôJtãy `ÏiB Èbrߊ «!$# ( Ÿw šcqà6Î=ôJtƒ tA$s)÷WÏB ;o§sŒ Îû ÏNºuq»yJ¡¡9$# Ÿwur Îû ÇÚöF{$# $tBur öNçlm; $yJÎgŠÏù `ÏB 78÷ŽÅ° $tBur ¼çms9 Nåk÷]ÏB `ÏiB 9ŽÎgsß ÇËËÈ

22. Katakanlah: " Serulah mereka yang kamu anggap (sebagai Tuhan) selain Allah, mereka tidak memiliki (kekuasaan) seberat zarrahpun di langit dan di bumi, dan mereka tidak mempunyai suatu sahampun dalam (penciptaan) langit dan bumi dan sekali-kali tidak ada di antara mereka yang menjadi pembantu bagi-Nya.

Juga dalam QS. Yunus: 61
$tBur ãbqä3s? Îû 5bù'x© $tBur (#qè=÷Gs? çm÷ZÏB `ÏB 5b#uäöè% Ÿwur tbqè=yJ÷ès? ô`ÏB @@yJtã žwÎ) $¨Zà2 ö/ä3øn=tæ #·Šqåkà­ øŒÎ) tbqàÒÏÿè? ÏmÏù 4 $tBur Ü>â÷ètƒ `tã y7Îi/¢ `ÏB ÉA$s)÷WÏiB ;o§sŒ Îû ÇÚöF{$# Ÿwur Îû Ïä!$yJ¡¡9$# Iwur ttóô¹r& `ÏB y7Ï9ºsŒ Iwur uŽy9ø.r& žwÎ) Îû 5=»tGÏ. AûüÎ7B ÇÏÊÈ

61.  “Kamu tidak berada dalam suatu keadaan dan tidak membaca suatu ayat dari Al Quran dan kamu tidak mengerjakan suatu pekerjaan, melainkan kami menjadi saksi atasmu di waktu kamu melakukannya. tidak luput dari pengetahuan Tuhanmu biarpun sebesar zarrah (atom) di bumi ataupun di langit. tidak ada yang lebih kecil dan tidak (pula) yang lebih besar dari itu, melainkan (semua tercatat) dalam Kitab yang nyata (Lauh mahfuzh).
Dalam QS. Ali-‘Imran: 5
¨bÎ) ©!$# Ÿw 4xÿøƒs Ïmøn=tã ÖäóÓx« Îû ÇÚöF{$# Ÿwur Îû Ïä!$yJ¡¡9$# ÇÎÈ
5. “ Sesungguhnya bagi Allah tidak ada satupun yang tersembunyi di bumi dan tidak (pula) di langit”.

Tampak jelas di dalam surat diatas terdapat penempatan kosa kata terdahulu dan terkemudiankan karena pada ayat yang pertama lafal al-ardli terletak terkemudian dari lafal as-sama’ dan sebaliknya pada ayat yang kedua pada contoh diatas terdahulu darinya. Inilah yang disebut dengan penempatan kosa kata (di depan atau di belakang) suatu kata.[2] Analisisnya adalah jika hal tersebut dilakukan pengkajian yang lebih mendalam, maka akan menemukan terjadinya perbedaan cara pengungkapan. Karena cara pengungkapan seperti contoh ayat diatas mempunyai arti tersendiri meskipun kelihatannya secara lahiriyah tidak membawa kepada perubahan makna yang mendasar.  Pada ayat yang pertama dan kedua didahulukan kata as-samawat dari kata al-ardli adalah agar serasi dengan pembukaan surat Saba’ tersebut yang berbunyi

ßôJptø:$# ¬! Ï%©!$# ¼çms9 $tB Îû ÏNºuq»yJ¡¡9$# $tBur Îû ÇÚöF{$# ã&s!ur ßôJptø:$# Îû ÍotÅzFy$# 4 uqèdur ÞOŠÅ3ptø:$# 玍Î7sƒø:$# ÇÊÈ

“Segala puji bagi Allah yang memiliki apa yang di langit dan apa yang di bumi dan bagi-Nya (pula) segala puji di akhirat. dan Dia-lah yang Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui”.
Dengan demikian akan terasa meresapnya kedalam jiwa suatu keharmonisan keakraban bahasa al-Quran itu.[3] Sedangkan ayat ketiga dan keempat pada surat Yunus dan Ali-Imran mendahulukan al-ardli dari as-sama’. Jika diperhatikan dengan seksama timbulnya permasalahn seperti itu ada kaitannya dengan perbuatan manusia di muka bumi. Indikasi kearah itu terlihat dengan nyata di ayat ketiga surat Yunus, ayat tersebut diawali Allah dengan pernyataan bahwa semua perbuatan dan tingkah laku manusia dibumi ini selalu diawasi oleh Allah tanpa sesaat Allah tak lupa dan tak lalai dari segala tindakan makhluknya.
Di dalam al-Quran pada penempatan suatu kata bukanlah suatu kebetulan, tetapi hal tersebut dibuat oleh Allah untuk menyampaikan pesan pada manusia untuk menuju  kejalan yang benar.
Sebenarnya terjadi perbedaan antara mufasir satu dengan yang lainnya tentang penyebab kata as-sama’ didahulukan dari pada kata al-ardli , akan tetapi disini Rasyid Ridha berpendapat lebih jelas, “ didahulukan lafal as-sama’ karena lafal itu diungkapkan dalam rangka sanjungan Allah terhadap dirinya dan menggambarkan keluasan ilmu-Nya. Maka dari itu sangatlah cocok didahulukan lafal as-sama’, karena ruang lingkupnya sangat besar (luas). Di dalamnya terdapat sejumlah matahari dan galaksi lainnya, yang jarak antara satu galaksi dengan galaksi yang lainnya (mencapai) jutaan tahun diukur dengan kecepatan cahaya”.
Adapun untuk ayat yang mendahulukan lafal al-ardli dari as-sama’ pada dua ayat yang terakhir tidak terdapat perbedaan pendapat dikalangan para mufasir, bahkan bisa dikatakan mereka sepakat untuk mengatakan bahwa kontek ayat itu berkaitan erat dengan permasalahn kehidupan manusia dimuka bumi ini.   
Adanya  kajian tentang penempatan kosa kata (di depan atau di belakang ) suatu kata atau penempatan kosa kata yang didahulukan atau yang diakhirkan suatu kata ini, al-Allamah Syams al-Din bin al-Sha’igh mengarang sebuah kitab yang berjudul al-Muqaddimah fi Sirr al-Alfazh al-Muqaddimah. Melihat judul karya tersebut, jelas didalamnya lebih banyak dibahas tentang rahasia-rahasia atau hikmah khusus yang dapat dipelajari tentang penggunaan teks-teks al-Quran yang didahulukan atau Penempatan kosa kata di depan atau di belakang suatu kata.[4] Beberapa contoh yang lebih terkait dengan rahasia secara global adalah QS. Al -A’la: 4-5

üÏ%©!$#ur ylt÷zr& 4ÓtçöpRùQ$# ÇÍÈ ¼ã&s#yèyÚsù ¹ä!$sWäî 3uqômr& ÇÎÈ
4.  “Dan yang menumbuhkan rumput-rumputan,
5.  Lalu dijadikan-Nya rumput-rumput itu kering kehitam-hitaman”.
Lafal ghutsa’  pada ayat tersebut berarti kering dan layu. Sedangkan lafal ahwa berarti rumput yang semula hijau kemudian berubah menjadi kehitam-hitaman. Sebelum rumput menjadi hitam, sudah barang tentu ia berwarna hijau, jadi maksudnya adalah Allah menumbuhkan rerumputan yang semula berwarna hijau, kemudian berubah menjadi kehitam-hitaman. Lafal gutsa’ didahulukan lalu lafal ahwa diakhirkan karena antara keduanya terdapat pemisah.[5]





C.     Kesimpulan
Pada bahasan diatas dapat disimpulkan bahwa letak kata pada ayat-ayat al-Quran bukan hanya kebetulan, tetapi karena sengaja diungkapkan seperti tersebut agar dapat menyampaikan pesan yang di bawanya secara tepat, yang jika tidak demikian susunannya maka pesan itu tidak akan terbawa. Dengan kata lain, setiap kata itu menempati fungsinya masing-masing sehingga tidak dapat dipertukarkan. Apabila itu terjadi maka dapat merusak maksud dari pengirimnya.


Daftar Pustaka
Baidan, Nashruddin. 2002, Metode Penafsiran al-Quran, Yogyakarta: Pustaka Pelajar

Ichwan, Mohammad Nor. 2002, Memahami Bahasa Al-Quran, Yogyakarta: Pustaka Pelajar

al-Suyuthi, Jalal al-Din al-Syafi’i. 1996,  Al-Itqan fi Ulum al-Quran, Beirut: Dar al-Fikr







[1] Jalal al-Din al-Suyuthi al-Syafi’i, Al-Itqan fi Ulum al-Quran, jilid II (Beirut: Muassasah al-Kutub al-Tsaqafiyah, 1996), h. 33-34
[2] Nashruddin Baidan, Metode Penafsiran al-Quran, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2002), h.86-87
[3] Ibid., h. 209
[4] Mohammad Nor Ichwan, Memahami Bahasa Al-Quran, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2002), h.240
[5] Ibid., h.241
Share this article :

0 comments:

Speak up your mind

Tell us what you're thinking... !

Next Prev home
 
Support : Creating Website | Mas Imam
Copyright © 2009. GREEN GENERATION - All Rights Reserved